Oleh Amie Sofia Ahmad

Assalamualaikum dan salam sejahtera. Seperti yang Allah jelaskan di dalam al-Quran. Manusia adalah ciptaan yang paling indah dan sempurna. Terciptanya manusia tidak lain hanyalah untuk menjadi hamba kepada-Nya.

Perbincangan kita pada ruangan minggu ini, saya akan cuba untuk merungkai kefahaman kita berkaitan dengan proses kejadian manusia yang terdapat di dalam al-Quran dan sunah.

Di dalam al-Quran, Allah SWT berfirman melalui surah al-Mukminun, “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari tanah kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang bertakung (rahim) kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging kemudian dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain (berbentuk) Maha suci Allah Pencipta yang paling baik.”

Berdasarkan ayat ini, Ibn Kathir dalam syairnya melakarkan bahawa diciptakan manusia daripada sari pati yang busuk dan dari sari pati itu juga manusia akan kembali.

Setelah Allah SWT menciptakan Nabi Adam dari tanah, Dia ciptakan pula Hawa dari Adam. Dari Adam dan Hawa ini maka lahirlah anak-anak manusia di muka bumi dan berketurunan dari air mani yang keluar dari tulang sulbi lelaki serta tulang dada perempuan hingga hari kiamat.

Baginda Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibu selama 40 hari berupa nutfah kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari) kemudian menjadi gumpalan seperti seketul daging selama itu pula (40 hari) kemudian diutuskan kepadanya seorang malaikat maka ia meniupkan roh kepadanya serta ditetapkan empat perkara ditentukan rezekinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia.”

Sesungguhnya kejadian manusia adalah sebagai bukti kekuasaan Allah SWT bagi mereka yang berfikir.

Sebagai manusia yang dibekalkan dengan kemampuan akal, kita sepatutnya bersyukur dengan segala nikmat kurniaan-Nya.

Sesungguhnya tiada guna kita mendepani segala kekuasaan Pencipta dengan rasa riak dan takbur kerana manusia itu sangat lemah. Segala kelebihan dan kekuatan yang kita miliki pun sebenarnya adalah kurniaan-Nya sepertimana yang difirmankan kepada kita dengan maksud:

“Sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan lautan Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.” (17:70).

Para pembaca yang budiman, perjalanan kita masih jauh untuk menuju ke alam barzakh seterusnya menuju ke negeri akhirat yang kekal abadi. Segala amalan yang kita lakukan ketika hidup di dunia ini akan diperhitungkan-Nya untuk diberikan balasan sama ada balasan baik atau buruk. Oleh itu setiap amalan yang kita lakukan ditakrifkan pahala dan dosa.

Umum mengetahui manusia terdiri daripada dua unsur. Tanpa unsur ini maka kejadian manusia itu akan dianggap sebagai tidak lengkap.

Unsur pertama adalah jasad dan unsur kedua adalah roh. Adapun roh, ia adalah urusan Allah SWT. Ia bukan sesuatu hal yang boleh dilihat dengan pandangan kasar. Roh tidak bersifat seperti sifatnya jasad. Jasad adalah bentuk fizikal manusia.

Firman Allah SWT, “Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperolehi (balasan) yang lebih baik daripadanya. Dan mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram daripada kejutan yang dahsyat pada hari itu.

Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi melainkan (setimpal) dengan apa yang kamu dahulu kerjakan.” (27:89-90).

Artikel ini disiarkan pada : Ahad, 24 January 2016 @ 12:30 AM